Songket Palembang 300 Tahun Menarik Pengunjung
Kamis, 17 April 2008
17 Mei Diboyong ke Kairo
JAKARTA – Pameran kain tradisional unggulan “Adi Wastra Nusantara” di Jakarta Convention Center (JCC), kemarin (16/4), dibuka Ibu Negara Ani SBY dan langsung diserbu pengunjung. Berbagai jenis kain tradisional dari seluruh Nusantara ditampilkan, termasuk kain songket Palembang, yang dibawa Dekranasda Sumsel pimpinan Ny Maphilinda Syahrial Oesman. Menariknya, kain songket asal Palembang yang usianya 300 tahun langsung menjadi tontonan pengunjung. Tidak hanya dipamerkan di Jakarta, 17 Mei mendatang songket asli Palembang ini akan diboyong ke Kota Alexandria, Kairo.
“Ini songket turun temurun. Usianya sekarang sekitar 300 tahun. Sebenarnya, koleksi kami ada yang usianya 400 tahun, tapi tidak dibawa,” kata Zainal, salah satu peserta asal Palembang yang tergabung di Tim Dekranasda Sumsel, kepada Sumatera Ekspres di lokasi pameran. Tim Dekranasda Sumsel menghadirkan tiga pesongket Sumsel di antaranya Zainal Songket, Triagunawan, dan Mir Senen.
Zainal mengatakan, songket yang usianya 300 tahun tersebut rencananya akan dibawa ke Kairo pada 17 Mei. Rencananya, tim Sumsel akan ke Timur Tengah mengikuti serangkaian kegiatan pameran. Hanya saja, songket dengan usia 300 tahun tersebut tidak dijual karena harganya sudah tidak ternilai.
“Kalau songket 300 tahun ini tidak dijual. Harganya tidak ternilai. Tapi yang kami jual ada beragam jenis songket. Misalnya motif tradisional, nagaberatung, lepusberantai, juga ada motif terbaru, bandong, bunga vakum, dan alang-alang lebar. Harganya kisaran Rp2-5 juta,” ungkap Zainal.
Dalam kesempatan pameran, stan Dekranasda Sumsel langsung ramai dikunjungi. Salah satunya istri Gubernur DKI Jakarta Ny Fauzi Bowo terlihat asyik melihat koleksi tenun songket khas Palembang. Termasuk kunjungan Assistant Vice President Bank Sumsel Jakarta Nelson Wijaya.
Zainal yang juga memiliki pusat kerajinan songket di berbagai lokasi di Tanah Air seperti Palembang, Jakarta, Riau, dan Batam masih mengharap dukungan dari pemerintah, terutama dari Pemprov Sumsel untuk keberangkatan ke Kairo. “Rombongan yang akan saya boyong ke Kairo nanti sekitar 20 orang, 7 di antaranya model. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp250 jutaan,” terang pria kelahiran Palembang tersebut.
Ir H Rachman Zeith, kepala Dinas Pariwisata Sumsel mengatakan, pelaksanaan pameran songket ini yang pertama dilakukan di Indonesia. “Sumsel ikut diundang dan tim yang mengikuti pameran diwakili oleh tim Dekranasda Sumsel dipimpin Ibu Maphilinda,” ujarnya.
Sumsel sendiri menampilkan berbagai jenis dan motif songket khas yang tentunya tidak dimiliki daerah lain. Termasuk dengan menghadirkan songket yang sudah berusia ratusan tahun.
Tidak hanya mengikuti pameran songket, hari kedua (hari ini, Red) tim Dekranasda Sumsel juga akan mengikuti fashion show pakaian adat Sumsel. “Kita bangga bisa ikut ambil bagian. Sebab acara ini bukan hanya bertaraf nasional, tetapi internasional. Sejumlah peserta dari Thailand, Urbekistan dan sejumlah negara di Timur Tengah ikut ambil bagian. Ini ajang kita mempromosikan pakaian khas Sumsel ke dunia internasional,” pungkasnya sambil menambahkan, kegiatan ini juga disponsori Bank Sumsel.
Hadir sejumlah pejabat penting Tanah Air dalam pembukaan pameran yang di-launching oleh Ibu Negara tersebut, terutama para kepala dinas pariwisata provinsi. Dari Sumsel hadir Kadisbudpar Rahman Zeth, Dirut Bank Sumsel Asfan Fikri Sanaf, serta para perajin songket.
Saat sambutan, Ny Ani Yudhoyono, mengatakan, selera masyarakat internasional saat ini kembali ke gaya etnik. Peluang tersebut harus bisa dimanfaatkan oleh para perajin karena kain tradisional memiliki peluang yang besar di pasar internasional. ”Kain tradisional Indonesia sangat diminati dan diapresiasi oleh kalangan internasional,” kata Ani Yudhoyono saat membuka pameran.
Pameran-pameran kain tradisional, kata Ani, harus terus digelar agar masyarakat Indonesia dan internasional semakin mengenal dan menggunakan sebagai busana modern. Pameran semacam ini harus digelar juga di berbagai negara.
Selain itu, kata Ani, pameran dapat memacu para perajin untuk berinteraksi, menimba ilmu, serta menambah pengalaman guna meningkatkan kreasi dan hasil produksi. ”Saya percaya bahwa bangsa kreatif adalah bangsa yang akan menang di abad milenium ini,” ujar Ani.
Pameran tersebut menampilkan produksi kain dari berbagai daerah. Sejarah kebudayaan kain Indonesia terlihat melalui lebih dari 100 helai kain langka kuno, di antaranya adalah tais dari Tanimbar, hinggi kawaru dari Sumba, songket dari Kerajaan Siak Indrapura, tais feto dari Timor, ulos tumtung dari abad ke-19, serta aneka batik koleksi para kolektor. Juga ditampilkan kain tradisional dari Kamboja. Jepang, dan Tiongkok.
Selain itu ditampilkan kreasi busana dari perancang ternama, di antaranya Stephanus Hamy, Didi Budiarjo, Tuty Cholid, Denny Wirawan, Obin, Oscar Lawalata, Carmanita, Ghea Panggabean, dan Guruh Soekarnoputra.
Ketua Umum Wastaprema, Adiati Arifin Siregar mengatakan pameran ini dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif Indonesia. “Bangkitnya industri kreatif ini pada gilirannya akan menjadi lokomotif bagi ekonomi rakyat menyangkut ribuan perajin kain di seluruh Nusantara yang melibatkan jutaan tenaga kerja,” jelas Adiati. (05/19/tom)




